Kasus Pernikahan Anak Di Lima Puluh Jadi Sorotan * Drs EA Pasaribu : Dapat Terjerat UU Perlindungan Anak

Batu Bara, (batubaratranspublik)
Kasus pernikahan anak di bawah umur sebut saja Cempaka (15) dan Lajang, 17 (samaran) di Kecamatan Datuk Lima Puluh, Kabupaten Batu Bara menjadi sorotan.

Orang tua Cempaka LM (40) bakal melaporkan kasus tersebut ke Unit PPA Polres Batu Bara. Masalahnya, LM keberatan pernikahan Cempaka tanpa restunya.

“Memang, pernikahan Cempaka dan Lajang secara siri dengan wali pengganti berinisial UN. Meski begitu saya keberatan dan akan melapor ke Polisi”, ucap LM kepada wartawan, Selasa (10/5/22).

Dikatakan LM, Cempaka dan Lajang menikah sebelum Ramadhan lalu (Maret 2022) dikediaman UN. Saat itu dirinya tidak dikabarkan bahwa putrinya akan dinikahkan.

“Cempaka masih terlalu dini untuk berumah tangga dan itu akan berdampak bagi kesehatan dan masa depannya. Masa anak belum 15 tahun dinikahkan. Dah gendeng itu”, ketus LM diarahkan kepada mantan suaminya yang saat itu tinggal diperantauan.

Disebutkan LM, seharusnya anaknya tamat SMP tahun ini tapi mau apa lagi, anaknya sudah dinikahkan tanpa sepengetahuan dirinya.

LM mengaku mengetahui kalau anaknya sudah menikah dengan Lajang warga kecamatan yang sama dari tetangganya sewaktu belanja ke warung. Bahkan dari orang yang datang ke warungnya diketahui jika anaknya sedang hamil.

“Baru baru ini ada tetangganya yang datang makan mie disini. Dia cerita kalau anak saya sudah hamil”, ucapnya sedih.

Namun LM menegaskan dirinya tidak setuju putrinya menikah. “Tapi mau apa lagi, dah terlanjur nikah”, sebutnya.

Saat ditanyakan apakah akan melaporkan masalah tersebut, LM menyatakan akan berembuk terlebih dahulu dengan keluarganya.

Sementara di tempat terpisah, UN kepada wartawan membenarkan Cempaka dan Lajang memang menikah di rumahnya.

Saat datang, kedua anak tersebut disertai dengan keluarga masing-masing. Pihak laki-laki dihadiri ayah kandungnya sedangkan pihak perempuan diwakili saudara ayah.

Saat ditanya siapa yang menikahkan kedua anak tersebut, dengan gamlang disebutkan adalah S yang merupakan ayah kandung Cempaka.

“Yang menikahkan (wali) adalah ayah Cempaka melalui telepon”, aku UN.

Menyinggung alasan menyetujui pernikahan tersebut, UN menyebut atas permintaan kedua pihak. Disebutkan UN, ayah pihak laki-laki beralasan karena keduanya tidak dapat dipisahkan lagi. Selain itu, disebutkan akan merantau mencari pekerjaan. Jadi agar mereka tetap bersama maka harus menikah terlebih dahulu.

Pernikahan dini antara Cempaka dengan Lajang ditanggapi pemerhati anak yang juga mantan Ketua KPAID Kabupaten Batu Bara Drs Ebson A. Pasaribu.

Menurutnya pernikahan dini tersebut tidak dibenarkan menurut UU No. 1 Tahun 1974 tentang Pernikahan maupun UU No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.

“Namun karena hal tersebut dilakukan di bawah tangan dan tidak tercatat di KUA maka pasal pernikahan terhadap anak di bawah umur tidak dapat dikenakan dalam kasus ini”, terang Pasaribu.

Meski begitu, lanjut Pasaribu, terhadap kasus ini dapat dikenakan pasal Persetubuhan terhadap anak di bawah umur sesuai Pasal 76B, 76D dan Pasal 76E UU No. 35 Tahun 2014.

Sedangkan pidananya diatur dalam Pasal 77B dengan ancaman 5 tahun dan atau denda Rp 100.000.000, dan pasal 81 UU No. 35 Tahun 2014 dengan ancaman 5 hingga 15 tahun penjara, terang Pasaribu. (tpbb01)

Bagikan:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*